Untuk anak remaja jaman sekarang, bepergian keluar kota bersama teman sudah merupakan kegiatan yang wajar. Karena bosan minggu depan gue dan temen - temen memutuskan untuk bepergian ke Puncak. Pada awalnya kami bingung untuk memilih antara Puncak dan Bandung, tetapi kerena salah satu temen gue yaitu Aldi berkata bahwa dia tau tempat yang katanya "bagus" di Puncak, tanpa pikir panjang mereka semua setuju untuk pergi kesana selain gue, karena bokap gue pernah bilang kalo puncak itu tempat yang angker dan tidak baik. Ya... karena takut di jauhin sama temen gue, mau gak mau gue harus ikut tapi secara diem - diem.
Setelah seminggu kita semua menanti dan akhirnya kita semua bertemu di rumah temen gue yang lain yaitu Sandi, karena jalan ke rumahnya searah dengan tujuan kita. Setelah semuanya berkumpul kita semua berangkat ke Puncak dengan mobil. Saat di Rumah sandi gue udh punya firasat buruk kalo bakal terjadi sesuatu diperjalanan kita ke Puncak. Dan ternyata firasat gue bener, ban mobil Aldi tiba - tiba bocor dan sial nya Aldi enggak membawa ban serep, yang mana artinya kita harus mendorong beban seberat 400 kg ke bengkel terdekat.
Setelah selesai mengganti ban mobil, kita melanjutkan perjalanan. Sayang sekali, di perjalanan kita terkena buka tutup dan harus menunggu selama 3-4 jam. Di mobil kita semua bercerita tentang mitos - mitos tentang Puncak.
Aldi mengawali percakapan dengan berkata 'Ada yang punya cerita serem gak?, mumpung lagi bosen nih!'.
'gue punya nih !, tapi kayanya ngak serem serem amat'. Balas Sandi
Sandi bercerita tentang rumah anker yang berada di dekat hutan Puncak
'katanya sih pernah ada yang masuk ke rumah tersebut dan bertemu dengan penghuni di sana akan tetapi dia tidak bisa keluar dari sana. Terus katanya untuk keluar orang itu akan memberikan tumbal setiap 5 tahun sekali.' cerita Sandi
'Ah masa iya?' tanya Aldi bercanda
Setelah mendengarkan cerita dari sandi aku hanya bisa terdiam, sementara raut wajah Aldi memberitahu bahwa dia meragukan cerita Sandi. Lalu sandi menyadari hal tersebut.
'Iya beneran dah, kalo gak percaya ayo kita buktiin kesana!' kata Sandi dengan nada kesal
'Ayo, siapa berani!, eh maap,siapa takut!' balas Aldi
Disini gue berusaha meluruskan 2 makhluk bumi ini ke tujuan awal kita.
'WEY KAN KITA PENGEN KE TEMPAT YANG DIUSULIN ALDI' protesku dengan serius
Dengan serentak kaya gerakan pengibar bendera mereka berkata 'Najis masa kaya gitu doang takut, cemen lu'
Karena diejek seperti itu gue pun menyetujui untuk pergi ke rumah angker tersebut. Tidak lama kemudian jalan ke arah atas sudah dibuka kembali dan kita langsung menuju hutan dimana rumah itu berada. Setelah sampai di daerah hutan itu, kita harus berjalan untuk mencari rumah tersebut karena mobil tidak bisa melewati hutan itu. Semenjak turun dari mobil gue merasa ada yang mengawasi.
Tidak lama kemudian, kita menemukan rumah di tengah hutan tersebut. Pas gue ngeliat rumah nya gue bilang ke temen gue.
'kayanya gue pernah liat ini rumah'.
Tetapi mereka semua mengabaikan gue dan pergi ke arah rumah itu. Saat sudah sampai di depan rumah tesebut, gue disuruh masuk duluan ke dalem.
'Lah kok jadi gue duluan si?'. tanya gue
"yaudah kita gambreng aja lah, gimana?' usul Aldi
Gue dan Sandi setuju akan usul Aldi, kemudian kita semua gambreng untuk menentukan siapa yang bakal masuk duluan. sayangnya keberuntungan enggak berpihak ke gue, dan gue harus masuk duluan di ikuti temen - temen gue di belakang. Semakin dalam gue semakin yakin kalo gue pernah liat rumah ini.
'Jegrreeek!!!' pintu tertutup secara tiba - tiba
Sandi yang berada paling belakang mencoba untuk membuka pintu tersebut, dan betapa kaget nya kita semua ketika pintu itu terbuka.
'AYAH ?' kata gue dengan nada kaget
'Sudah berapa kali ayah bilang untuk tidak pergi ke puncak!' kata ayah dengan nada marah.
'Baiklah, pas sekali sudah 5 tahun aku tidak kesini dan betapa beruntungnya aku tidak perlu mecari tumbal susah - susah.' kata ayah
'Pantes aja gue kaya kenal tempat ini' kata gue
'Yasudah, mohon maaf teman - teman, gue udh mencoba memperingatkan kalian' kata gue
'dadah'
Comments
Post a Comment